Romantisme Jalan Malioboro

Home/Wisata Kota/Romantisme Jalan Malioboro

Romantisme Jalan Malioboro

Romantisme Jalan Malioboro

Dan esok los-los pasar

akan menyebarkan lagi warna permainan kanak

dari kayu: boneka-boneka pengantin

merah-kuning dan rumah-rumah harapan

dalam lilin.

Siapa namamu, tanyaku.

Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.

1997

Puisi Di Malioboro, Kumpulan Puisi Goenawan Mohamad

malioboro-street

 

Halo Sahabat De Jogja! Salam Adventure! Seperti yang digambarkan oleh sastrawan Goenawan Mohamad di atas, kali ini kita akan bagi – bagi cerita tentang Malioboro nih! Ke Jogja, tidak lengkap kiranya kalau tidak berkunjung ke Malioboro. Layaknya sepasang kekasih, Yogyakarta dengan Malioboro sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Jika kita menyebut nama Malioboro, pasti kita langsung  berpikir tentang Yogya. Begitupun sebaliknya.

Siapa yang tak tahu dengan Jalan Malioboro. Nama Malioboro sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Malioboro sudah menjadi ikon khas dari Yogyakarta. Tak terhitung berapa banyak wisatawan local maupun asing yang tiap tahun berkunjung ke Malioboro.

Lalu apa sih sebenernya Malioboro itu? Baik, langsung saja kita akan berbagi cerita tentang Malioboro.

Malioboro merupakan sebuah jalan yang berada di pusat Kota Yogyakarta. Malioboro menjadi salah satu tempat wisata yang terkenal dan favorit di Jogja. Bahkan grup musik KLA Project mengabadikannya dalam sebuah lagu berjudul Yogyakarta, yang menjadi hits di tahun 90 an.

Jalan Maliboro terletak disebelah selatan Tugu Jogja (selatan jalan Mangkubumi) yang memanjang ke utara selatan sepanjang sekitar 1 km. Disepanjang jalan ini, banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam cinderamata unik khas Jogja. Dari mulai souvenir, kalung, dompet, tas sampai kaos dan pakaian yang menjadi ciri khas Jogja.

Banyak wisatawan yang datang untuk berbelanja, menikmati suasana Jogja ataupun sekedar berfoto. Lokasi foto yang paling favorit adalah di ujung utara dan selatan jalan Malioboro. Wisatawan yang datang berombongan dengan menggunakan bis, biasanya berfoto di ujung utara jalan Malioboro. Disamping karena lokasinya yang dekat dengan tempat parkir bis, di lokasi tersebut memungkinkan pengambilan foto dengan background aktivitas jalan Malioboro dan papan nama jalan.

Sedikit ke utara dengan menyeberang rel kereta api merupakan gerbang  stasiun Tugu. Disitu terdapat monumen lokomotif kuno yang juga sering dijadikan tempat berfoto, walaupun sebenarnya agak mengganggu lalu lintas keluar dan masuk ke setasiun.

malioboro-street-dejogja

Pentas Para Seniman

Di beberapa tempat, trotoar seolah menjadi panggung seni jalanan. Dari mulai pemain musik, kesenian tradisional hingga pemain teater, beraksi memeriahkan suasana.

Pada waktu-waktu tertentu para seniman kawakan, seperti Didik Nini Towok, juga menunjukkan kreasi seni mereka di sana.

Ramainya bagian selatan jalan Malioboro, yang dikenal sebagai kawasan titik nol Yogya, disamping karena trotoarnya yang cukup lebar dengan dilengkapi beberapa bangku taman. Di sekitar lokasi itu juga terdapat Istana Kepresidenan Yogyakarta, Museum Benteng Vredeburg, monumen Serangan Umum,  gedung-gedung kuno dan beberapa patung serta instalasi seni lainnya.

Istana Kepresidenan Yogyakarta yang dikenal dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara, terletak di sebelah barat atau di kanan jalan. Sedangkan museum Benteng Vredeburg dan monumen Serangan Umum terletak di sebelah timur atau di kiri jalan.

Suasana Malam

Ketika malam hari, banyak pedagang makanan yang menggelar dagangannya di sepanjang jalan Malioboro. Walaupun menu khas masakan jogja, berupa gudeg, krecek, baceman dan sebagainya. Namun berbagai macam menu makanan dapat kita temukan disini. Satu hal yang menjadi ciri khas hampir semua lapak kuliner ini, yaitu lesehan. Sehingga pembeli bisa menikmati makanan dan suasananya dengan santai, apalagi jika ditemani lagu – lagu yang di nyanyikan kelompok-kelompok pengamen jalanan.

Jalan Malioboro awalnya digunakan sebagai rute upacara dan membentuk sebuah garis lurus jika ditarik dari Keraton Yogyakarta ke Gunung Merapi. Secara keseluruhan Jika ditarik garis lurus, jalan ini lurus dari gunung Merapi, monumen Jogja Kembali, Tugu dan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Bahkan kalau mau ditarik lurus ke selatan, akan sampai ke gerbang pantai Parangtritis.

Itu dia cerita tentang Malioboro! Bagaimana Sahabat De Jogja? Apakah tertarik mengunjungi Malioboro? Apakah sudah siap untuk menghabiskan liburan di Malioboro?

Ayo segera hubungi kami! Karena kami akan menyediakan paket – paket menarik untuk sahabat semuanya. Kami juga punya pelayanan special untuk sahabat semuanya.

By | 2018-04-04T10:01:15+00:00 December 16th, 2017|Wisata Kota|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment